SIT Mutiara Cendekia Gelar Seminar Parenting: Bangun Karakter Anak dari Rumah

Kepedulian Itu Dinilai dari Rumah: Mengatasi Bullying dan Kecanduan Gadget pada Anak

Info Beregam – Sekolah Islam Terpadu (SIT) Mutiara Cendekia Kota Lubuk Linggau kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan keluarga melalui penyelenggaraan Seminar Parenting yang berlangsung pada Sabtu, 12 Juli 2025. Kegiatan ini mengangkat tema “Kepedulian Itu Dinilai dari Rumah: Mengatasi Bullying dan Kecanduan Gadget pada Anak” dan menghadirkan narasumber utama Assoc. Prof. Dr. Muhammad Iqbal, P.H.D., seorang psikolog ternama di bidang pendidikan anak dan keluarga.

Pentingnya Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan SIT Mutiara Cendekia, Dra. Med. Vet. Hj. Retno Trapsilowati, MM, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter anak dimulai bukan dari ruang kelas, tetapi dari ruang-ruang sederhana di rumah, seperti meja makan dan ruang keluarga.

“Peran orang tua tak tergantikan oleh guru sehebat apa pun. Pendidikan terbaik hadir dari rumah, dari kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang hangat antara anak dan orang tua,” ujarnya penuh haru.

Retno juga menyoroti perubahan zaman yang begitu cepat, di mana tantangan parenting saat ini tak hanya hadir dari lingkungan sosial, tetapi juga dari dunia digital. Bullying dan kecanduan gadget, menurutnya, adalah dua ancaman serius yang harus dihadapi secara bijak oleh orang tua masa kini.

Seminar ini bukan sekadar ruang diskusi, namun sebuah panggilan untuk orang tua agar kembali meneguhkan komitmen dalam membentuk karakter anak.

Ia berharap materi yang disampaikan narasumber bisa menjadi inspirasi dan bekal bagi para orang tua untuk mendampingi anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijak, dan peduli pada sesama.

Tantangan Digital dalam Pola Asuh Anak

Sementara itu, Dr. Muhammad Iqbal, P.H.D. menyampaikan bahwa mendidik anak bukanlah tugas yang mudah. Banyak orang tua mengeluhkan tentang perubahan perilaku anak yang semakin dipengaruhi oleh teknologi.

Pengasuhan merupakan kerjasama antara ibu dan juga ayah. Jangan biarkan teknologi menggantikan peran orang tua,” tegasnya.

Iqbal mengibaratkan gadget seperti pisau bermata dua—bisa bermanfaat, namun bisa pula berbahaya. Ia mengajak orang tua untuk tidak hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga membangun hubungan emosional yang hangat dengan anak. “Jadilah cinta pertama dan pahlawan untuk anak-anakmu,” pesannya.

Waspada Bahaya Bullying

Dalam paparannya, Iqbal juga menekankan pentingnya mencegah tindakan perundungan (bullying), baik di lingkungan sekolah maupun di dunia maya. Menurutnya, dampak bullying sangat serius karena tidak semua anak mampu menghadapi tekanan secara mental.

“Bullying itu bisa sangat menyakitkan. Jangan sampai anak kita menjadi korban, atau bahkan pelaku. Semua itu dimulai dari bagaimana kita mendidik dan memperhatikan mereka di rumah,” ucapnya.

Acara seminar ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh pendidikan dan pengurus yayasan, antara lain Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa, Ir. H. A. Firdaus Azis, MM; Sekretaris Umum Isnaeni Machrawinayu, S.Pt., M.Si; serta Pengawas Yayasan, dr. Fitria Koeshardani, Sp.OG, Staf Ahli III Bidang Kemasyarakatan dan SOM, H Heri Zulianta.

Jajaran pimpinan sekolah SIT Mutiara Cendekia juga tampak hadir, seperti Direktur Pendidikan Dr. H. Umar Diharja, SP., MAP; Kepala TKIT Wulan Fitriani; Kepala SDIT Adi Sucipto; dan Kepala SMPIT Abdiansyah Satria. Para wali murid pun antusias mengikuti jalannya seminar yang berlangsung penuh kehangatan dan refleksi ini.

Seminar ini tidak hanya menambah wawasan para orang tua, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran keluarga sebagai pilar utama dalam pembentukan karakter anak. Para peserta membawa pulang semangat baru untuk menjadi pendamping terbaik bagi anak-anak mereka di tengah gempuran zaman.

SIT Mutiara Cendekia berharap seminar ini menjadi langkah awal dari gerakan kepedulian bersama dalam mendidik generasi yang lebih kuat, cerdas, dan berempati—yang tumbuh dari rumah yang penuh cinta dan kebijaksanaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *